Buku Ali Muakhir-sunatan spesial
Sunatan Massal by Ali Muakhir

Sinopsis:

Buku ini berkisah tentang persahabatan dua orang anak laki-laki. Mandra anak betawi yang tinggal di Bojong Kenyot dan Siahaan anak Medan. Awal perjumpaan mereka, ketika Siahaan membaca pantun di sebuah majalah terbitan Ibukota. Tulisan itu milik Mandra. Lewat ujung pena yang mereka torehkan dalam sehelai kertas, mereka berkirim surat, berkenalan dan bersahabat. Ya, mereka lebih suka bersahabat lewat surat. Karena lewat pos lebih mendebarkan dibandingkan dengan sms atau fesbuk yang sekali klik langsung tahu beritanya. “Engga seru!” kata Mandra. Pada suatu hari Siahaan mengirim kabar dia menang lomba menulis. Hadiahnya, jalan-jalan ke Ibukota. Mandra sangat senang sekali mengetahuinya. Mereka akan kopi darat, seperti yang sering ia mimpikan selama ini. Ia pun memberitahukan Nyak dan Babeh, termasuk kepada Imas.

Siahaan pun datang ke rumah Mandra yang betawi asli. Ia menghabiskan kesempatan tinggal di Ibukota di rumah Mandra. Pada waktu itu, pas sekali akan dilaksanakan sunatan masal.  Mandra, karena sudah seringkali mangkir di sunat, kali ini harus mau. Siahaan pun membujuk Mandra untuk menuruti kehendak orangtuanya. Mandra resah, semalam ia tidak bisa tidur. Tetapi keesokan harinya ia mau juga mendatangi tempat sunatan massal itu diantar oleh Siahaan dan Nyak Babehnya.

Acara sunatan massal semarak karena menjadi acara tahunan di lingkungan tempat tinggal Mandra. Biasanya dimeriahkan dengan acara marawisan, lenong, ondel-ondel, pengajian dan pengantin sunat diarak keliling kampung naik beca. Wuahh, Siahaan senang sekali menemani Mandra naik beca. Ini adalah pengalaman yang hebat untuk Siahaan. Siahaan tidak mengenal sunat, tetapi dengan menemani Mandra, dia jadi tahu betapa enaknya menjadi pengantin sunat.

Siahaan mengantarkan Mandra ke ruang sunat. Meskipun takut, tetapi Mandra masuk juga ke ruang sunat dan ternyata … dia menangis sesenggukan setelahnya. Walhasil, hal itu membuat Nyak menjadi kuatir. Tapi ternyata Mandra sedang menggoda Nyak Babehnya, dia tidak sakit sama sekali. Tangisannya, tangisan bohong-bohongan! Semua pun tertawa dengan lelucon Mandra.

Hari perpisahan pun tiba. Mandra dan Imas mengantar Siahaan sampai di bandara. Sebelum naik pesawat, Siahaan menyerahkan sebuah amplop kepada Mandra. Eh, apa ya isi amplop itu? Penasaran? Yuk, kita cari bukunya!

Ulasan Buku:

Ceritanya ringan dan mampu disantap anak-anak dalam waktu singkat karena pewarnaan dan ilustrasi yang membuat mereka semangat membacanya. Tetapi sayang, masih banyak hal-hal yang kurang bisa diterima oleh orang dewasa. Mungkin jika anak-anak yang membaca tidak terlalu kentara kesalahan-kesalahan penulisan atau kesinkronan cerita halaman per halamannya.

Setelah membaca cerita ini, banyak pertanyaan-pertanyaan yang mampir di benak saya. Siahaan usianya 10 tahun, begitu juga dengan Mandra. Siahaan pintar ya bisa jalan sendiri ke rumahnya Mandra. Apakah tidak takut tersesat bepergian sendiri, padahal kan dia baru saja menginjakan kakinya di Ibukota? Ibukota lebih kejam daripada ibu tiri loh. Apa tidak takut diculik? kemana para panitia yang mengundangnya? itu yang pertama.

Yang kedua, saya juga mendapati kejanggalan, di halaman 18 Siahaan diceritakan tidak tahu tentang sunat. “Mandra, sunat itu apa?” tanya Siahaan. Tapi dengan sok tahunya, Siahaan kemudian memberikan statemen bahwa sunat itu seperti digigit semut (lihat hal 21).

O iya, mungkin untuk meyakinkan bahwa ini adalah buku tentang sunatan, ilustrasi ditambah dengan pak dokter yang ramah dan anak-anak yang riang setelah di sunat di halaman 28-29. Anak saya yang berusia 6 tahun sempat bertanya kepada saya, “Mana yang mau disunat?” karena dia belum bisa membaca, maka gambarlah yang menjadi andalannya :-).

Selebihnya buku ini bagus sekali untuk meyakinkan anak laki-laki untuk tidak takut disunat. Apalagi digambarkan bahwa, disunat artinya perayaan yang heboh, seperti ondel-ondel dan marawis, diarak pakai beca lagi. Seronoknyee …  kata orang Melayu 🙂

Keunggulan Buku:

Buku ini ditulis oleh seorang Maestro yang sudah malang melintang  dalam dunia menulis cerita anak. Sang Maestro bak seorang chef , meracik, mengolah, mengemas cerita dengan sangat ringan dan mudah dicerna oleh anak-anak. Cocok untuk perpanjangan lidah orang tua. Kalau kita enggan capek berargumen dengan anak, buku ini adalah pilihannya 🙂

Bukunya ringan, covernya lucu -pinky-. Saya kira anak-anak perempuan pun akan tertarik untuk membaca buku ini. Begitu juga kedua gadis saya yang berusia 7 dan 10 tahun, langsung mengambil buku ini. Walaupun mereka akhirnya merasa tidak cocok membaca buku ini, karena sunat kan urusannya anak laki-laki 🙂 Tapi, cover bukunya eye catching banget.

Bukunya full colour, full ilustrasi, asyik membacanya. Ada hologramnya menambah cantik penampilan buku yang sudah eye catching🙂

Kelemahan Buku:

Kertasnya mudah sobek. Begitu juga dengan warnanya mudah luntur. Buku ini sudah berpindah tangan beberapa kali, dari mulai anak saya yang paling besar sampai yang bayi ikutan baca. Walhasil, tampangnya sudah lecek. Apalagi adik bayi suka banget menjilat dan memakan kertasnya, warna buku pun luntur karena air liur.

Kesalahan Penulisan:

Ada beberapa kesalahan penulisan dalam buku ini.

1. Pertama terdapat di halaman 1  paragraf pertama. Di sana tertulis; Begitu isi surat Siahan untuk Mandra. Mungkin maksudnya Siahaan ya.

2. Kemudian ada lagi di halaman 1,  paragraf kedua dan ketiga. Ada ketidakkonsistenan dalam menuliskan e-mail atau email.

3.  Halaman 6, salah tulis sedikit di paragraf kedua. Kampung Bojong Kenyot yang letatnya di pinggir Kota Jakarta.

4. Halaman 20, terdapat dua kali pengulangan kalimat yang sama. Malam itu, Mandra memikirkan ….

5. Di belakang cover, sinopsis menyebutkan bahwa Siahaan tinggal di Amerika. Sementara di dalam isi ceritanya, Siahaan tinggal di Tanah Karo Medan.

Penutup: 

Buku ini cocok untuk segala usia, terutama usia SD kelas 1-6. Saat di mana anak harus siap di sunat. Dengan membaca buku ini, saya yakin ada spirit yang menjadikan mereka optimis, disunat tidak sakit! Dan anak-anak pun akan berkata, “Hari gini masih takut disunat? Apa kata dunia?”

Judul: Sunatan Spesial

Pengarang: Ali Muakhir

Penerbit: Sahabat Ufuk

Tahun Terbit: September 2011-cetakan pertama

Tebal Buku: 33 halaman cerita  (38 halaman berikut cover)