Berburu First Lady? jangan keburu berfikir bahwa aku sedang berburu Kate Middleton, Duchess of Cambridge itu ya. Bukan! Tapi ini adalah pengalamanku dengan 5 krucils-ku berburu baju gamis hitam di negeri jiran, Johor, Malaysia. Pengalaman pertama yang mendebarkan sekaligus menggelikan.

Di KL

Ceritanya begini. Saat ramadhan kemarin, sulungku kelas 5 SD seperti biasanya I’tikaf dengan sekolahannya di 10 malam terakhir selama seminggu. Baju wajib yang harus dipakai gamis hitam. Hedeuhh, meskipun itu gamis memang selalunya dipakai setiap tahun, tetap saja aku tuh lupa untuk menyiapkannya jauh-jauh hari. Akhirnya 5 jam sebelum berangkat ke masjid, aku dan lima orang krucils-ku yang imut dan lucu harus berjuang untuk mendapatkan baju gamis hitam tersebut.

Perburuan kami adalah First Lady, sebuah toko busana muslim terkenal murah meriah di Johor. Toko itu adanya di Bandar Kota Raya, pusat kota gitu. Dan selama dua tahun tinggal di Johor aku belum pernah ke sana. Namanya sayang anak, meski bimbang, aku pun menguatkan tekad, aku bisa ke sana naik bis tanpa minta diantar suami. Kebetulan suamiku juga sedang super sibuk sekali di tempat bekerjanya.

Sehabis shalat zhuhur aku pun menyiapkan pasukan. Sebagai komandan, aku briefing sebelum berangkat ke medan tempur. Tidak boleh lari-lari, harus pegangan tangan, liat ke depan, perhatikan setiap rintangan, Kakak dengan Pie, Teteh dengan Abang. Diakhir briefing aku pun membisikan kata-kata rahasia.

“Jangan bilang sama Abi ya.” Mereka mengangguk setuju dan berhamburan ke luar pagar begitu pintu dibuka dengan lebar, “HOREEEE!” seperti anak bebek yang menemukan kolam, byurr nyemplung barengan.

Kami jalan beriringan, aku yang menggendong si bungsu lumayan terbantu karena tas ransel dibawa si Teteh. Dipinggir jalan saat akan menyebrang, komandan bawel pun beraksi.

“Lihat kiri, lihat kanan, sampai mobil hitam itu lewat siap-siap nyebrang ya.”

“STOP! Jangan terlalu kepinggir, nanti kesambar mobil dari kiri, lihat lagi sampai truk itu lewat kita siap nyebrang, jangan lari,” teriakku ketika sudah ditengah pembatas jalan untuk nyebrang ke halte bis.

Berbekal informasi dari teman-teman, aku pun menunggu bis yang akan mengantarkan kami ke bandar kota raya. Tak menunggu lama, bis pun datang dan anak-anak berloncatan ke dalam bis dengan riang.

“Pakcik, kota raye berapa ya?” tanyaku pada sopir. Si pakcik melirik gerombolanku yang sudah duduk manis. “Ehm… 8 ringgit 60 sen,” jawabnya.

“Eh tapi pakcik, kan anak-anak saya masih kecil,” protesku. Pakcik melirik lagi.

“6 ringgit 80 sen, seorang 3 ringgit 40 sen,” jawabnya jutek. “Nak pegi mane?”

“First Lady, ehmm… Kota Raya,” kataku sambil mencari tempat duduk sambil berdoa semoga engga nyasar.

Empat puluh lima menit kemudian Akhirnya sampailah kami di kota raya. Wuahhhh, aku pun dengan noraknya berfoto-foto ria dengan anak-anak, setiap sudut jadi obyek, sampai si Abang anak ketigaku protes. “Gak mau difoto lagiiiii!”

Dengan berbekal tanya sana sini, akhirnya sampailah kami ke mall Kota Raya yang sudah ganti nama Galeria. Senangnya, misi sebentar lagi berhasil. Kami pun berhamburan ke dalam mall baru itu. Wuahhh…penuh dengan dagangan baju kurung cantik untuk lebaran. Tapiii …  mana First Ladynya ya? kami pun berkeliling dan, Nihil.

Si kakak sudah berkaca-kaca, hampir menangis. Akhirnya aku memberanikan diri bertanya pada informasi di lobi depan.

Bay deway, bas way, akhirnya aku pun bertanya lagi, di mana si First Lady bersembunyi. Olala… ternyata aku salah alamat. Bukan di Galleria tetapi di Danga City Mall. Dari kota raya aku harus naik taksi dengan tarif 5 ringgit, dekat tapi kalau jalan kaki bikin gempor!

Aku pun segera menuju pool taksi, langsung diberhentikan oleh petugas keamanan yang prihatin dengan nasibku. Sebelum naik taksi, aku sempatkan berfoto ria di depan Galleria, klik. Hihihi kapan lagi dot com gitu lho, siapa tahu aku engga bakalan ke situ lagi, jauh bow dari rumahku yang lebih deket ke kampus UTM.

Perjuangan belum selesai. Naik taksi engga punya recehan, huhuhu…pengen nangis rasanya. Dompet udah di ubek-ubek uang 5 ringgitan tak jua kutemui. Sampai di Danga City Mall, aku kayak induk bebek yang nyari uang recehan, dengan anak bebek yang ngekor dengan teratur.

Aku tukar uang 50 ringgit asli, tapi engga ada yang mau huhuhu, akhirnya aku ke kedai orang Cina, tadinya dia pura-pura engga punya uang kecil. Udah keliling-keliling, eh mentoknya ke kedai dia lagi, dia kasihan kali ya, akhirnya ngasih juga tukeran uang recehan, asyikkk…makasih ya Koh!

Kami pun ke lantai dua dan setelah sampai diujung tangga, tulisan FIRST LADY dengan hurup besar-besar begitu ingin aku peluk dengan mesra.

“Ummiii, FIRST LADY, FIRST LADY!” seru anak sulungku. Kami pun berhamburan ke dalamnya. Engga peduli orang-orang pada melirik emak rempong dengan lima anak yang kalap sampai di dalam toko busana muslim itu. Si Kakak dan teteh langsung menuju kumpulan gamis hitam. Sementara Pie, Abang dan Sarah main sembunyi-sembunyian dan melantai diantara baju-baju. Aku sudah tak peduli, pokoknya sudah pukul 5, waktunya pulanggg! Terbayang-bayang wajah ganteng suamiku yang berubah menjadi monster, tahu anak-anaknya dibawa naik bis ke First Lady. Hiyyy…untung bulan puasa, jadi ketakutanku tak menjadi kenyataan J Alhamdulillahhhh…heuheu#